
Indonesia dan Diplomasi Global
Pada akhir Agustus 2025, Jakarta menjadi tuan rumah KTT G20, forum internasional yang mempertemukan negara-negara dengan perekonomian terbesar dunia. Ini adalah kedua kalinya Indonesia menjadi tuan rumah setelah Bali 2022. Dengan tema “Sustainable Growth in a Fragmented World”, G20 Jakarta 2025 menjadi sorotan karena berlangsung di tengah ketegangan geopolitik dan krisis iklim yang semakin parah.
Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah KTT ini adalah kesempatan emas untuk memperkuat posisi sebagai middle power di Asia, sekaligus sebagai mediator netral dalam konflik global.
Krisis Iklim sebagai Agenda Utama
◆ Komitmen Net-Zero Emission
Negara-negara anggota G20 membahas komitmen menuju net-zero emission 2050–2060. Isu ini semakin mendesak karena laporan terbaru IPCC menunjukkan suhu global naik lebih cepat dari perkiraan.
◆ Transisi Energi
Indonesia mendorong transisi energi berkeadilan, menekankan bahwa negara berkembang perlu dukungan finansial dan teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.
◆ Dana Iklim
Diskusi intensif terjadi mengenai pendanaan iklim. Negara-negara berkembang mendesak negara maju untuk memenuhi janji pendanaan $100 miliar per tahun, yang hingga kini belum tercapai sepenuhnya.
Ketegangan Geopolitik
◆ Perang Ukraina
Krisis Ukraina tetap menjadi topik panas. Amerika Serikat dan Uni Eropa menekan Rusia, sementara Tiongkok menolak narasi sepihak dan menyerukan jalur diplomasi. Indonesia berusaha menyeimbangkan posisi agar diskusi tidak buntu.
◆ Rivalitas AS–Tiongkok
Rivalitas dua kekuatan besar ini memengaruhi hampir semua agenda, mulai dari perdagangan, teknologi, hingga keamanan regional. G20 Jakarta 2025 menjadi ajang “panggung samping” bagi negosiasi bilateral keduanya.
◆ Isu Timur Tengah
Situasi Palestina–Israel dan dinamika keamanan di Teluk juga dibahas. Negara-negara G20 menyoroti pentingnya stabilitas di kawasan penghasil energi global ini.
Peran Indonesia Sebagai Tuan Rumah
◆ Mediator Netral
Sebagai negara non-blok, Indonesia menegaskan posisi netral dan berupaya memfasilitasi dialog inklusif. Presiden Indonesia menjadi tuan rumah diskusi informal yang mempertemukan delegasi Barat, Rusia, dan Tiongkok.
◆ Fokus pada Global South
Indonesia mendorong agar G20 lebih memperhatikan kepentingan Global South: negara-negara berkembang yang rentan terhadap krisis iklim dan ketidaksetaraan ekonomi.
◆ Showcase Budaya
Selain diplomasi, G20 Jakarta juga menjadi ajang promosi budaya Indonesia. Gala dinner menampilkan kuliner nusantara dan pertunjukan seni tradisional yang mendapat pujian internasional.
Hasil dan Kesepakatan
◆ Deklarasi Bersama
Meski ada perbedaan pandangan, G20 Jakarta berhasil mengeluarkan deklarasi bersama mengenai komitmen percepatan transisi energi dan kerja sama pendanaan iklim.
◆ Forum Teknologi Hijau
Diluncurkan forum kerja sama teknologi hijau, yang akan mempertemukan perusahaan multinasional dengan startup energi terbarukan dari negara berkembang.
◆ Komitmen Multilateral
Negara anggota sepakat memperkuat kerja sama multilateral di tengah fragmentasi geopolitik, meskipun tidak semua isu sensitif (seperti Ukraina) mencapai kesepakatan penuh.
Reaksi Internasional
◆ Pujian
Banyak analis memuji kemampuan Indonesia menjaga forum tetap produktif meski diwarnai ketegangan global.
◆ Kritik
Namun, ada juga kritik bahwa G20 terlalu lamban dalam mengambil tindakan nyata, terutama terkait pendanaan iklim. Aktivis lingkungan menilai hasil pertemuan masih jauh dari cukup untuk mencegah krisis iklim.
◆ Media Global
The Guardian menyebut G20 Jakarta sebagai “contoh diplomasi moderat yang berhasil.” Sementara New York Times menyoroti bagaimana Indonesia memanfaatkan momentum untuk memperkuat pengaruhnya di Asia.
Dampak bagi Indonesia
◆ Reputasi Global
Keberhasilan menjadi tuan rumah memperkuat citra Indonesia sebagai pemimpin regional dan mediator global.
◆ Investasi dan Pariwisata
Acara ini juga memberi dampak ekonomi, dengan lonjakan investasi hijau serta promosi pariwisata. Ribuan delegasi dan jurnalis internasional memberi sorotan positif bagi Jakarta.
◆ Tantangan Lanjutan
Namun, Indonesia juga dituntut konsisten dalam kebijakan domestik, terutama terkait energi fosil dan pengelolaan lingkungan.
Kesimpulan: G20 Jakarta 2025 sebagai Titik Balik
KTT G20 Jakarta 2025 memperlihatkan betapa dunia menghadapi tantangan besar: krisis iklim, perang, dan rivalitas geopolitik. Meski tidak semua masalah terselesaikan, forum ini membuktikan pentingnya dialog multilateral.
Bagi Indonesia, G20 adalah panggung untuk menunjukkan bahwa negara berkembang bisa berperan besar dalam membentuk masa depan dunia. Diplomasi moderat dan netral menjadi aset penting dalam dunia yang kian terfragmentasi.
Referensi: